Jumat, 28 Juni 2013
Berjalan
Senin, 01 Oktober 2012
Cita-Citaku Setinggi Tanah
Rabu, 29 Agustus 2012
Adik
Cheers,
:-)
Kamis, 23 Agustus 2012
Bemo Kok Jadi Bajaj..?
Singkat cerita, aku menghabiskan waktu perjalanan sekitar 20 menit menuju stasiun akhir tujuanku. Dari sana aku masih harus menggunakan kendaraan lain untuk benar-benar sampai di tempat tujuanku. Sebelumnya aku bertanya pada salah seorang sahabat, kendaraan apa yang bisa kunaiki untuk sampai di tempat tujuan tersebut, dan dia menjawab BEMO. Ini harus ditulis dengan huruf kapital biar jelas perbedaannya. Nah, saat aku membaca tulisan itu, terpikirkan satu kendaraan sejenis BAJAJ yang berwarna biru. Tapi aku cukup ragu, sepertinya bukan itu. "Ah, kita lihat saja nanti disana," kataku dalam hati. Saat keluar dari stasiun yang pertama kali kulihat adalah BAJAJ, tapi tidak berwarna biru, melainkan oranye. Aku pun memilih salah satu BAJAJ oranye tersebut dan menyebutkan tujuanku tanpa tawar menawar harga. Sebelumnya lagi, aku juga bertanya pada sahabatku itu, berapa kira-kira biaya yang harus aku keluarkan, kemudian dia menjawab Rp 2.000. Aku heran, apa iya semurah itu. Saat itu yang ada di pikiranku adalah BAJAJ berwarna biru. Sahabatku menyakinkan aku kalau dia serius, tidak bercanda, dan aku percaya.
Dengan santai aku duduk di dalam BAJAJ oranye, menikmati suasana kemacetan di sekitarku. Tidak terasa aku sudah dekat ke tempat tujuan -yang sebenarnya masih bukan tempat tujuan akhirku-, aku menimbang-nimbang lagi berapa biaya yang harus kukeluarkan, apa iya semurah itu? Selama pengalamanku naik BAJAJ beberapa kali, rasanya tidak pernah aku membayar kurang dari Rp 5.000, walaupun jaraknya cukup dekat. "Sepertinya memang dekat sih tempat tujuanku, kalau begitu aku bayar Rp 4.000 saja, dua kali lipat dari yang dibilang sahabatku," kataku dalam hati. Kemudian aku tersenyum. Jujur saja, itu adalah senyum bangga karena aku merasa cukup baik memberikan bayaran dua kali lipat. Hahaa... Manis sekali kurasa senyumku waktu itu, dan untung saja bapak supir Bajaj tidak melihat aku senyum-senyum sendiri seperti itu. Setibanya di tempat yang aku tuju, dengan yakin aku memberikan uang Rp 4.000 yang sudah kulipat rapi kepada Bapak tersebut, lalu Bapak itu bertanya, "Berapa ini?" aku menyebutkan nominalnya. Tanpa berbicara, Bapak supir Bajaj mengembalikan uang yang aku berikan. Aku bingung, seketika itu juga menyadari ada masalah. Raut wajah Bapak itu tidak enak, sambil berkata, "Masa iya empat ribu naik bajaj dari sana?" Bapak tersebut mengemudikan bajajnya dan memarkirkannya di tepi jalan, di deretan bajaj-bajaj lainnya. Waduh, aku jadi jantungan dan sedikit kesal.
Aku menyusul Bapak itu dan bajajnya di tepi jalan. Dengan wajah yang sengaja aku bikin tegas kemudian aku menjawab, "Biasa emang segitu kok Pak dari sana." Eh, jawaban saya malah membuat si Bapak semakin kesal dan mengomel. Walaupun kesal, saya mengikuti kata hati, sepertinya memang ada yang aneh. Lalu tanpa membantah lagi saya bertanya lembut, "Jadi berapa pak?" Si bapak menjawab lima belas ribu rupiah. Kekesalanku kembali muncul, masa iya segitu mahalnya untuk jarak yang tidak terlalu jauh seperti itu. "Ah, engga segitu kok Pak." jawabku, kemudian aku berusaha menekan kekesalanku dan lebih melembutkan suara. "Ini Pak, sepuluh ribu aja ya..," Kataku setengah membujuk sambil memberikan uang sepuluh ribuan. Bapak tersebut masih mengomel-ngomel, mungkin kekesalannya belum habis. Aku merasa sepuluh ribu itu sudah pas. "Udah ya Pak, sepuluh ribu cukup kan? kan lumayan dekat Pak..," aku mulai melangkah perlahan meninggalkan Bapak itu dan bajajnya. Bapak itu masih saja mengomel, tapi raut wajahnya melembut. "Makasih ya Pak," kataku sambil tersenyum dan segera berpaling, mengambil langkah panjang meninggalkan si Bapak dan bajajnya.
Sambil melangkah, aku berpikir, benar apa yang kurasakan, tidak mungkin membayar BAJAJ hanya Rp 2.000. Kemudian aku mengingat sahabatku dan sedikit kesal. Tapi aku tidak yakin harus kesal padanya, sepertinya masalahnya ada di aku. Tanpa berpikir panjang lagi, aku mengirimkan pesan kepadanya, mengatakan aku diomelin Bapak BAJAJ karena membayar dengan jumlah tersebut. Aku memastikan lagi apa benar biayanya segitu. Sahabatku dengan yakin menjawab benar, dan dia menekankan lagi bahwa yang dimaksudnya adalah BEMO, bukan BAJAJ. Sepertinya tirai pembungkus pikiranku mulai terbuka dan aku mengenali BEMO yang dimaksud temanku. Dalam waktu 3 tahun lebih aku memang baru 2 kali menggunakan jasa transportasi BEMO itu. Begitu menyadari keanehanku itu, aku tersenyum geli bercampur miris dan kesal. Beberapa menit kemudian aku nyaris tertawa mengingatnya. Aku jadi menyesal karena sempat kesal dan agak ngotot mengatakan bayarannya yang biasa memang segitu. Oh, sungguh, saat pikiran tidak benar-benar baik lebih baik tidak pergi sendirian, tapi bersama orang yang bisa dipercaya. Dalam hati aku meminta maaf kepada Bapak supir Bajaj dan merasa bersyukur karena kejadian yang aku alami tidak lebih buruk dari itu. :D
Jumat, 10 Agustus 2012
Benarkah Itu?
Seperti sengatan listrik yang mengalir melalui telinga dan merambat ke hati,
Membuka lorong kekecewaan yang selama ini ditutupi pintu kepercayaan.
Tertegun. Apa lagi yang bisa dilakukan?
Sedetik, dua detik, dan seperti sihir raut wajah berubah, menyembunyikan kekecewaan.
Dan kalimat tanya yang dikurung kehati-hatian merayap keluar dari mulut.
Kesadaran yang menyerang seketika entah kemana perginya.
Sebisa mungkin memegang kemudi akal pikiran dan mengikat kencang sabuk perasaan.
Benarkah itu?
Tentu saja, apa lagi yang diragukan?
Kau sudah merasakannya dulu, teriak pikiran.
Seperti kosong, tapi juga tidak kosong. Hati kecil berjalan dengan pikiran.
Tentu saja benar. Itu kenyataan. Sulitkah menghadapinya? Toh sudah berlalu seperti angin lalu.
Ya, memang berlalu, tapi pintu kepercayaan roboh dan terkuak lebar, memberi jalan masuk ke lorong kekecewaan.
Luka-luka kecil menganga, akal pikiran mengkisut lelah.
Sebegitu tidak berharga kah?
Senyum pahit menelan kekecewaan.
Adakah yang bisa dilakukan?
Yang lalu sudah berlalu, kekecewaan pun pasti akan berlalu.
Detik-detik waktu dimohon membawa sendu berlalu.
Cepat atau lambat, tiada yang tahu.
Sungguh cepatlah berlalu, sambil langkah berjalan satu-satu.
Rabu, 08 Agustus 2012
Sahabat
Rabu, 01 Agustus 2012
Kebetulan?
Selasa, 01 Mei 2012
Cerita Soal Dewasa
Sabtu, 19 November 2011
Teringat Cita-Cita
Rabu, 22 September 2010
Goresan Tangan, Goresan Hati

see, hancur kan?
Senin, 20 September 2010
Muter-muter Mencari Jupiter

Rabu, 15 September 2010
dari Lala
“Bapa, Engkau sungguh baik, kasihMu melimpah di hidupku..”
Suara setengah merdu Lala memenuhi ruangan kamarnya di pagi yang indah hari ini. Sementara Ia bernyanyi, tangannya sibuk merapikan rambut panjangnya di depan cermin.
“hoaaammm…”
Sesekali Lala menguap hingga matanya yang berwarna coklat tua berkaca-kaca.Seperti biasa, Ia tidur larut malam meskipun harus kuliah pagi hari.
Ya, itulah Lala Kristanti yang biasa disapa Lala. Ia seorang gadis mandiri yang saat ini sedang berkuliah di salah satu Universitas negeri di Jakarta. Lala dikenal sebagai anak yang cerdas, cantik, dan ceria oleh teman-teman serta keluarganya, namun di balik semua itu Lala hanya seorang anak yang kesulitan menemukan jati dirinya. Ia tidak benar-benar yakin ada bakat tertentu dalam dirinya, seperti halnya teman-teman yang saat ini sudah sibuk mengembangkan bakat masing-masing, mulai dari menggambar dan melukis, mendesain, bermain musik, dan lain sebagainya. Tidak jarang Lala merasa terpuruk karena memikirkan hal itu. Sungguh bukan Lala yang tampak dari penampilan luarnya.
“oke, saatnya berangkat, “ Lala mengambil tas dan segera berangkat ke kampus yang tidak jauh dari tempat tinggalnya.
***
Malam menjemput dan Lala berkutat dengan layar komputernya. Jari-jarinya menari lincah di atas keyboard komputer. Suara gemuruh petir yang bersahut-sahutan menemani pikirannya bermain dengan semangat menggebu yang tersimpan dalam dirinya. Lala mendapat jawaban atas doanya. Ia menyadari satu kehendak Tuhan dalam hidupnya, satu berkat Tuhan yang selama ini sulit untuk dilihat dan dirasakannya, meskipun sudah sering kali dilakukannya. Obrolan dengan sahabatnya, Maya, siang itu di kampus membuka matanya, menyadarkannya pada berkat Tuhan yang sering tidak dihiraukannya dan tidak disyukurinya. Malam ini Lala menyalurkan berkat itu, menuangkannya dalam bentuk kata-kata yang memang menjadi dunianya. Ya, Lala menyadari satu bakatnya, menulis.
cukup lama berputar-putar dalam lingkaran tak berujung di dalam ruang pikiran
terjatuh, lalu bangkit, dan kemudian terjatuh lagi
sampai tubuh lelah lebam dan terkulai
terdiam
membiarkan cahaya meruntuhkan lingkaran tak berujung yang kubentuk sendiri
memberi kesempatan pada angin yang ingin membagikan sapaannya lembut
sampai aku terhanyut
cukup lama berputar-putar dalam lingkaran tak berujung di dalam ruang pikiran
sampai sebuah suara lembut membangunkan dan menunjukkan arah
sebuah suara yang menggerakkan langkah
membentuk sebuah ruang baru dalam pikiran
ruangan yang ingin terus diisi dan ditumpahkan
sebuah ruangan yang kusadari sebagai duniaku
disinilah aku, di duniaku
ini ruanganku, bagianku, duniaku.
ya, ini duniaku.
suara itu meyakinkanku
menggelitikku untuk mengisi duniaku.
dunia indah singgasanaku.
Lala mengakhiri tulisan singkatnya, tersenyum manis, beranjak dari tempat duduknya, mengambil Alkitab, duduk di atas kasur, kemudian berdoa.
***
“Apa? gue nulis di buletin?” Lala berkata dengan suara melengking di sela-sela waktu makan siangnya.
“Iya, gimana?” Maya menjawab santai sambil tersenyum.
“Aduh, gimana ya, kan ga gampang juga, May.. Tega banget deh sama gue,” Lala memelas
“Bisa kok, pasti bisa. Coba nulis cerpen aja,” Maya berusaha meyakinkan Lala.
“Ya, ntar dulu deh,” Lala menutup pembicaraan dengan bibir yang sedikit manyun. Ia tidak siap dengan tawaran yang diberikan Maya selaku pengurus Buletin Rohani di kampus.
Sesampainya di kamar, Lala membaringkan tubuhnya di atas kasur empuknya. Remote TV yang tergeletak di meja kecil samping tempat tidur pun disambar dengan cepat untuk menemaninya menghilangkan rasa lelah. TV yang semula hanya diam membisu akhirnya mulai berceloteh ini itu mengisi pendengaran dan penglihatan Lala.
“ckckck, film apa aja sih yang ada disini,” Lala gemes dengan siaran TV yang tidak bisa memuaskan keinginannya, hingga perhatiannya tertuju pada satu siaran di TV. Acara yang ditayangkan benar-benar mencuri perhatiannya dan mengubah jalan pikirannya.
***
“Ini May, lihat dulu,” Lala tersenyum senang sambil menyerahkan tiga lembar kertas yang dipenuhi tulisan kepada Maya.
“Apaan nih?” Maya berkata bingung. Tangannya menerima kertas yang diberikan Lala, membaca tulisannya sekilas, kemudian tersenyum senang.
“Nah loh, ini buat buletin ya?” Senyum Maya tidak bisa hilang sambil matanya terus memperhatikan tulisan pada lembaran-lembaran kertas yang dipegangnya.
“Yoha. Ntar kalau ada masukan bilang aja ya,” Lala senang melihat ekspresi sahabatnya.
“Maaf ya kemaren gue sempat menolak dan kesal,” Lala melanjutkan.
“Abisnya gue bingung mau nulis apa, secara gue juga baru sadar sama kemampuan menulis gue. hehe..”
“Uhm, kenapa lo jadi tiba-tiba mau gini?” Maya bertanya penasaran.
“Hehe, kemaren pulang kuliah gue nonton siaran televisi. Bagus deh May..Kisah seorang bapak yang udah cacat dari lahir tapi akhirnya bisa sukses melalui bakat yang dimilikinya. Awalnya sih bapak itu ga sadar akan kemampuannya. Dulu juga dia minderan karena kondisinya, apalagi setelah ibunya meninggal, bapak itu sering mengurung diri, ga peduli sama dunia luar,” Lala bercerita panjang lebar.
“Terus, terus?” Maya bertanya penasaran.
“Bapak itu mulai sadar setelah baca buku harian Ibunya. Ternyata ibunya menulis kalau Dia sangat bersyukur memiliki bapak itu sebagai anaknya walaupun kondisinya tidak seperti anak normal lainnya. Ibunya juga nulis kalau Dia berharap si Bapak itu bisa jadi anak yang berguna buat orang lain, buat bangsa dan negaranya, terlebih buat Tuhan. Dan ternyata benar, bapak itu bangkit dari keterpurukannya dan mulai melihat kelebihan yang ada dalam dirinya. Mulai deh si bapak menyiar di berbagai radio dan akhirnya dia membangun usaha di bidang itu. Bapak itu salah satu pemilik radio swasta terkenal loh disini..”
“Wow, keren..,” Maya berkata takjub.
“Iya. Setelah itu gue sadar, buat apa gue menyadari bakat gue kalo ga bisa gue gunakan untuk membantu orang lain. Yaaa, gue harap sih dengan tulisan itu banyak orang yang tergerak mengembangkan bakatnya untuk membantu orang lain dan membangun bangsa kita. haha..”
“Wah, teman gue mulia sekali,” Maya memuji Lala dengan tersenyum geli.
“Sementara ini mungkin hal kecil itu yang bisa gue lakukan. Ke depannya sih gue pengen lebih maksimal lagi, bikin skenario film atau acara TV yang bisa membangun anak bangsa,” Lala berkata penuh semangat. Ia kemudian bernyanyi lembut untuk dirinya sendiri, “Ini suaraku dan tanganku, hidup ini untukMu aku persembahkan..”
***
ditulis untuk buletin PO FISIP (Angkatan) edisi September:)
Kalau bapak yang cacat sejak lahir saja mau mengembangkan bakatnya hingga menjadi sesuatu yang bermanfaat untuk orang banyak, juga Lala yang baru menyadari bakatnya saja mau mengembangkannya dari hal kecil sekalipun, kenapa kamu tidak?
Lihatlah, ada sesuatu dalam dirimu yang meronta-ronta ingin disyukuri, dikembangkan, dan dimanfaatkan untuk menghasilkan sesuatu yang besar. Tapi ingat juga, sesuatu yang besar itu biasanya dimulai dari yang kecil terlebih dahulu. Jadi, jangan ragu atau malu jika kamu hanya bisa menghasilkan sesuatu yang kecil dari bakat, talenta, atau kemampuanmu karena bisa jadi hal kecil itu akan menjadi besar kemudian.
Tidak percaya? Coba saja!:)
Selasa, 07 September 2010
Feels Like Home - Chantal Kreviazuk
Somethin' in your eyes, makes me wanna lose myself
Makes me wanna lose myself, in your arms
There's somethin' in your voice, makes my heart beat fast
Hope this feeling lasts, the rest of my life
If you knew how lonely my life has been
And how long I've been so alone
If you knew how I wanted someone to come along
And change my life the way you've done
It feels like home to me, it feels like home to me
It feels like I'm all the way back where I come from
It feels like home to me, it feels like home to me
It feels like I'm all the way back where I belong
A window breaks, down a long, dark street
And a siren wails in the night
But I'm alright, 'cause I have you here with me
And I can almost see, through the dark there is light
Well, if you knew how much this moment means to me
And how long I've waited for your touch
And if you knew how happy you are making me
I never thought that I'd love anyone so much
It feels like home to me, it feels like home to me
It feels like I'm all the way the back where I come from
It feels like home to me, it feels like home to me
It feels like I'm all the way back where I belong
It feels like I'm all the way back where I belong
Sabtu, 04 September 2010
Maaf
Rabu, 01 September 2010
Kau Vs Dirimu, Aku Vs Diriku
Kamis, 17 Desember 2009
Tersenyumlah Pau..
garis halus merangkai bingkainya
lengkungan samar bertengger sempurna
apa gerangan berdiam di istana kalbunya?
Mungkin ronanya merah muda
parasnya sebening mata air surga
sapanya semerdu senandung cinta
tapi satu anugerah tedahsyat samar oleh indahnya
Coba tatap dia
apakah bumi bertengger di baliknya?
apakah tak ada yang menyentil keras hatinya?
apakah salju tak berwarna membungkus hangatnya?
Dan cobalah tatap dia
sudahkah semua sempurna?
tanpa garis itu menyapa parasnya
tanpa sentuhan hangat dari hatinya
tanpa hangat mentari terbit dalam kalbunya?
Coba intip hatimu
Temukan garis itu
lepaskan bumi dari atasmu
biarkan mentari kalbu terbit dalam senyummu.
Tersenyumlah Pauu...
Tersenyumlah..:)